Gemuruh angin di jendela seperti serangkaian ketukan lembut jantungmu menembus kabut. Pagi berpayung kelabu terkikis gerimis yang terbakar di matamu. Hujan membuat kita memasuki perjalanan bara. Yang mengembara di dada kita. Menciptakan matahari. Matahari yang menggantung indah di matamu, lalu merangkak ke bulumatamu membentuk pelangi. Aku memeluk bidadari.
Pelukan kita adalah samudera. Menghanyutkan segala dera. Sebab di sana gelombang cinta tak kenal lelah. Membuat rindu seteduh biru lautan tak keluh menyusun gemuruh. Membuat kecemasan berderaian hilang di pasir pantai lengang. Lalu kita pun tertawa, memecah kesunyian. Seperti ombak meneriak karang. Seperti sepasang camar mempersembahkan cakrawala. Pada sebuah pagi, matahari menyebrangi samudera yang bergelora di dada kita.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar